Merindukan Sosok Pemimpin Ideal

Merindukan Sosok Pemimpin Ideal

(Oleh : Ust. Ahmad Habibul Muiz)

Kepemimpinan adalah salah satu aspek penting dalam struktur kehidupan sosial, karenanya harus mendapatkan porsi perhatian yang serius untuk mewujudkannya. Semua orang menginginkan adanya pemimpin yang terbaik dan “sempurna”. Namun terkadang harapan itu tidak diimbangi dengan usaha serius, terencana dan terukur dengan variabel kualitatif dan kuantatif yang dibutuhkan.

Memang tidak mudah merencanakan dan mempersiapkannya, apalagi jika dihadapkan pada kompleksitas kehidupan yang makin dinamis dan kompetitif dalam berbagai hal, baik pada skala mikro maupun makro. Namun demikian optimisme untuk merealisasikannya harus menjadi bagian dari arah kebijakan dan masuk dalam prioritas program perencanaan.

Kepemimpinan dalam pandangan Islam berakar pada keimanan dan kesediaan untuk berserah diri kepada Allah Yang Maha Pencipta. Kepemimpinan Islam merupakan fitrah bagi setiap manusia dan manusia diamanahi oleh Allah untuk menjadi Khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi (Q.S. Al Baqarah/2: 30).

Pemimpin bertugas merealisasi misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Selain itu manusia juga berfungsi sebagai (hamba Allah) yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah. Sabda Rasullulah SAW dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari menyebutkan bahwa: “Setiap kamu adalah pemimpin (pelindung) dan bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya”.

Rasulullah, adalah tauladan bagi umat dalam segala aspek kehidupan, khususnya dalam hal kepemimpinan ini beliau adalah sosok yang mencontohkan kepemimpinan paripurna dimana kepentingan umat adalah prioritas bagi beliau. Maka sangatlah tepat apabila kita sangat mengidealkan visi dan model kepemimpinan Muhammad (sang revolusioner yang legendaris, manusia mulia kekasih Allah). Kepemimpinan dalam terminologi Islam memiliki nilai-nilai syariah dan filosofis yang sangat fundamental, dan disebutkan dengan beberapa isilah sebagai berikut.

Pertama, disebut dengan kata ro’i. Istilah ro’i mencakup kepemimpinan negara, masyarakat, rumah-tangga, kepemimpinan moral, yang mencakup juga kepemimpinan laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, tak seorang pun di dunia ini lepas dari tanggung jawab kepemimpinan, minimal terhadap dirinya sendiri. Setiap orang mengemban amanah, dan setiap amanah pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Artinya kepemimpinan dalam terminologi ro’i menyiratkan pentingnya makna ri’ayah yang artinya menggembala, memelihara, mengarahkan, dan memberdayakan orangorang yang dipimpinnya (ra’iyah).

Kedua, imam. Artinya pemimpin yang selalu berada di depan. Kata imam seakar dengan kata amam (di depan). Sehingga dalam terminologi ini, imam adalah pemimpin yang berfungsi sebagai teladan dan sosok panutan yang membimbing orang-orang yang dipimpinnya.

Imam Ibnul Qoyim telah mengemukakan dalam kajian kepemimpinan, bahwa: kata imam juga berarti ma`mum. Dengan pengertian ini, maka seorang pemimpin selain siap untuk menjadi imam, ia juga harus siap untuk menjadi ma`mum. Imam, selain bertugas mengarahkan ma’mum, pada saat yang sama ia pun harus siap dikritik dan diingatkan oleh ma’mum. Sebagaimana pada shalat berjamaah, ketika imam melakukan kesalahan, ma`mum wajib mengingatkannya dengan ucapan subhanallah. Dan imam harus siap mendengarkan peringatan ma`mum.

Ketiga, khalifah. Secara terminology artinya pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa : kepemimpinan dalam terminologi khalifah juga berarti menyiapkan kepemimpinan berikutnya sesuai dengan aturan syari’ah demi tercapainya kemashlahat duniawi dan ukhrowi. Kata khalifah seakar dengan kata khalfun (belakang).Ini artinya, seorang pemimpin bukan saja harus mempersiapkan generasi pemimpin penggantinya, ia juga harus siap melanjutkan kepemimpinan sebelumnya.

Keempat, amir. Artinya pemerintah. Kita wajib menaati seorang pemimpin (amir) apapun warna kulitnya, bentuk rupanya, kaya atau miskin, selama pemimpin itu berada dalam bimbingan wahyu Allah sebagaimana firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]. Kata amir juga berarti ma`mur (yang diperintah). Ini artinya, seorang pemimpin selain menjalankan fungsifungsi pemerintahan, ia juga harus siap diperintah oleh rakyatnya dalam hal yang mengandung kemaslahatan untuk semua. Ibnu Mandzur mengatakan, Amir adalah penguasa yang mengatur pemerintahannya di antara rakyatnya.” (lihat; Lisanu Arab: 4/31). Kata ulil amri juga dapat didefinisikan yaitu; para pemilik otoritas dalam urusan umat. Mereka adalah orang-orang yang memegang kendali semua urusan. (lihat: Al-Mufradat, 25)

Keempat tipe kepemimpinan di atas terlihat jelas dalam pola kepemimpinan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin yang selalu mengedepankan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan. Hakikat kepemimpinan dalam Islam adalah mengemban amanah rakyat untuk mencapai keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Seorang pemimpin memang harus memiliki keistimewaan, cerdas, berakhlak mulia, dan bermental baja. Namun, itu semua tidak ada artinya tanpa adanya loyalitas dari rakyatnya. Ketaatan kepada Pemimpin adalah satu pilar pemerintahan dalam Islam. Umar bin Khaththab berkata, “tidak ada arti Islam tanpa jamaah, tidak ada arti jamaah tanpa amir (pemimpin), dan tidak ada arti amir tanpa kepatuhan.”

Meskipun Islam mewajibkan umatnya agar taat kepada pemimpin, namun ketaatan itu tidak bersifat mutlak. Seperti dikatakan Ali bin Abi Thalib, “wajib bagi imam (pemimpin) memerintah dengan aturan yang diturunkan Allah dan me- nyampaikan amanah. Apabila ia melaksanakan demikian, maka wajib bagi rakyat menaatinya”. Namun demikian ketaatan rakyat kepada pemimpin dibatasi oleh beberapa persyaratan, yaitu pemimpin yang memiliki kriteria:

Pertama, pemimpin yang memiliki komitmen kepada syariat Islam dengan menerapkannya dalam kehidupan. Kedua, pemimpin yang adil dan tidak zalim (Q.S. An-Nisa/4: 58). Di era kemajuan teknologi dan informasi yang sedemikian dahsyat dalam tekanan persoalan yang makin kompleks serta harapan akan masa depan yang makin lebih baik, maka sosok pemimpin ideal tidaklah cukup hanya memiliki persyaratan normatif, baik secara moral maupun spiritual saja.

Sosok pemimpin Islam masa depan dituntut untuk memiliki multi kompetensi baik secara keilmuan dan pengetahuan maupun skill dan ketrampilan serta kualitas leadership yang handal. Bersabar dalam kesungguhan dan ketawakalan insyaAllah akan mengantarkan harapan itu menjadi kenyataan. Amin. (*)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Dhuha Taubat

Oleh ; KH. M. SHOLEH DREHEM,Lc   Bismillah.. Alh...Selengkapnya

Al Quran sebagai Pedoman Hidup

(Oleh: KH. Ahmad Mudhofar Jufri) Al-Qur’an diturunkan u...Selengkapnya

Memahami Al Quran, Modal Menjadi Manusia Unggul

Al Qur’an terdiri dari 30 juz yang ditafsirkan oleh ribuan jilid kitab tafsir, ribuan hadit...Selengkapnya

Berita Terbaru

Motivasi Semangat Menghafal Bersama Naja

Suasana Masjid Ar-Rahmah Jl. Teluk Buli Surabaya, Senin (24 Juni) pagi kemarin lain dari biasanya...Selengkapnya

Permintaan Lulusan STIDKI Terus Mengalir

Alhamdulillah… meski belum dinyatakan lulus menyelesaikan studi S-1 nya di STIDKI  Ar...Selengkapnya

23 Mahasiswa Sidang Skripsi

Dengan semangat dan persiapan yang matang, pagi hari itu Senin (17 Juni) itu, M. Ahnaf Dzikrullah...Selengkapnya