Istighfar-istighfar Pilihan

Istighfar-istighfar Pilihan

(Oleh: KH. Ahmad Mudhofar Jufri)

Esensi dari istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah Ta’ala, sebagai bukti dan wujud taubatan nasuha, yang didasarkan pada pengakuan yang jujur akan dosa, penyesalan yang dalam dan sepadan atasnya, serta tekad yang sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya. Inilah inti dari setiap istighfar.

Sedangkan pelafalan dengan lesan adalah faktor pendukung. Sehingga selama inti dan esensi tersebut telah terpenuhi dalam diri seseorang, maka masalah lafal dan redaksi istighfar yang diucapkan bisa longgar dan relatif. Yakni bisa saja dengan lafal dan redaksi yang manapun, dan bebas diucapkan dalam bahasa apapun. Baik Arab, Indonesia, Jawa, Madura, Sunda, Inggris, maupun yang lainnya.

Namun, meskipun demikian, tetap saja akan lebih baik, lebih ideal, lebih afdhal dan lebih sempurna, jika lafal dan redaksi istighfar yang dipilih dan dilantunkan adalah berasal dari Al-Qur’an dan sunnah Rasululullah SAW. Karena, barokahnya pastilah lebih besar! Dan berikut ini adalah beberapa lafal istighfar pilihan dari tuntunan Sang Teladan Utama, Baginda Sayyidina Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.

1. Lafal istighfar terpendek yang biasa dibaca sebanyak 3x oleh Rasulullah SAW. selepas shalat:
Astaghfirullah” (Aku memohon ampun kepada Allah)

2. Dalam hadits bahwa, barangsiapa membaca istighfar dibawah ini, maka akan diampunkan dosanya, meskipun ia telah lari dari medan jihad yang sedang berkecamuk (dimana dosanya sangat besar sekali):
Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih” (Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan aku bertobat kepada-Nya).

3. Lafal istighfar Rasulullah SAW. yang banyak dibaca di akhir masa hidup beliau:
Subhanallah wa bihamdih. Astaghfirullah, wa atubu ilaih” (Maha Suci Allah, dan dengan memuji-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya).
Atau dengan lafal dan redaksi berikut ini:
Subhanaka, Allahumma wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik” (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu).

4. Lafal doa istighfar yang biasa dibaca oleh Rasulullah SAW. dalam ruku’ dan sujud, khususnya di akhir hidup beliau, dalam rangka mengamalkan perintah Allah dalam surah An-Nashr:
Subhanaka, Allahumma Rabbana, wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik” (Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu).

5. Sahabat Ibnu Umar ra. sempat menghitung lafal istighfar berikut ini dibaca oleh Rasulullah SAW. dalam satu majlis, sebanyak 100 x:
Rabbighfirli, wa tub ‘alayya, innaka Anta At-Tawwabur-Rahim” (Wahai Tuhan-ku, ampunilah daku, dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau-lah Dzat Maha Penerima tobat, dan Maha Penyayang).

6. Doa istighfar kaffaratul majlis (penutup dan penghapus dosa majlis):
Subhanaka, Allahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa Anta, astaghfiruka, wa atubu ilaik” (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu).

7. Lafal doa istighfar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. kepada sahabat Abu Bakar ra. untuk dibaca di dalam shalat khususnya sebelum salam:
Allahumma inni dzalamtu nafsi dzulman katsira, wala yaghfirudz-dzunuba illa Anta, faghfirli maghfiratan min ‘indika, warhamni, innaka Antal-Ghafurur-Rahim” (Ya Allah sungguh aku telah mendzalimi diriku dengan kedzaliman yang banyak. Dan tiada yang bisa mengampuni dosa-dosa selain hanya Engkau. Maka ampunkanlah daku dengan sebuah pengampnan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau-lah Dzat Maha Pengampun, Maha Penyayang).

8. Sayyidul-istighfar (Induk istighfar), dimana disabdakan bahwa, barangsiapa membacanya pada siang hari lalu wafat pada siang itu, maka ia termasuk ahli Surga, dan barangsiapa membacanya pada petang hari lalu wafat pada malam itu, maka ia tergolong ahli Surga:
Allahumma Anta Raabbi, la ilaha illa Anta, khalaqtani wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu. A’udzu bika min syarri ma shana’tu. Abu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abu-u laka bidzambi. Faghfirli fa innahu la yaghfirudz-dzunuba illa Anta” (Ya Allah Engkau-lah Tuhan-ku. Tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau Yang telah Menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan menjaga janji-Mu seoptimal yang aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala yang aku perbuat. Aku kembali kepada-Mu dengan (mengakui) segala nikmat-Mu kepadaku. Dan akupun kembali kepada-Mu dengan (mengakui) semua dosaku. Maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang bisa mengampuni dosa-dosa selain hanya Engkau). (*)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Bersaudara karena Allah

Oleh : KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc. M.Ag. Dalam arti sacara umum, al It...Selengkapnya

Berpegang Teguh pada Kurikulum Allah

( Oleh: KH. Muha...Selengkapnya

Cinta Dunia

oleh : KH. M Sholeh Drehem,Lc    .Bismilla ...Selengkapnya

Berita Terbaru

Mahasiswa Manfaatkan Layanan Pindah Pilih Pemilu 2019

Ada suasana berbeda di sebuah ruang kuliah di kampus STIDKI Ar-Rahmah Surabaya, Kamis kemarin. Ka...Selengkapnya

Jalin Sinergitas Akademik dengan UINSA

Satu lagi momen kerjasama dan sinergitas STIDKI Ar-Rahmah Surabaya dengan pihak ketiga terjalin. ...Selengkapnya

Motivasi Sukses Melalui Apel Bulanan

Senin pagi (11/2) kemarin seluruh mahasiswa mengikuti apel bulanan yang kembali dilaksanakan di a...Selengkapnya