Al Quran sebagai Pedoman Hidup

Al Quran sebagai Pedoman Hidup

(Oleh: KH. Ahmad Mudhofar Jufri)

Al-Qur’an diturunkan untuk dipahami lalu diikuti sebagai pedoman dan petunjuk bagi ummat manusia yang beriman dan bertaqwa. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya (memahami dan merghayatinya) dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai akal fikiran (yang jernih)” (QS. Shaad 38: 29). “Maka apakah mereka tidak memperhatikan (memahami dan menghayati) Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisaa’ 4: 82). “Maka apakah mereka tidak memperhatikan (memahami dan menghayati) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad 47: 24).

Jadi sekali lagi, Al-Qur’an yang merupakan Kalamullah (Firman Allah) ini diturunkan untuk dipahami, dimengerti, diperhatikan dan dihayati, agar selanjutnya bisa diamalkan perintah dan larangannya serta diikuti petunjuknya. Namun bagaimana kaum muslimin bisa memahami, mengerti dan menghayati Al-Qur’an, sedangkan ia berbahasa Arab, sementara mayoritas ummat Islam justru bukan dari bangsa Arab, yang berarti tidak berbahasa Arab? Apakah memang Al-Qur’an hanya untuk bangsa Arab saja?

Tentu saja tidak. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan membawa kitab suci Al-Qur’an ini, diutus tidak untuk bangsa Arab semata, melainkan untuk seluruh ummat manusia. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…” (Al-A’raaf 7: 158). “Dan Kami tidak mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS. Saba’ 34: 28).

Berarti Al-Qur’an pun ditujukan kepada seluruh ummat Islam, baik yang berasal dari bangsa Arab maupun yang non Arab. Berarti pula semua wajib memahami, mengerti dan menghayati Kitabullah ini. Karena semua berkewajiban untuk mentaati perintah dan larangannya serta mengikuti petunjuknya. Dan tentu saja itu hanya bisa dilakukan setelah mereka memahami makna dan maksudnya. Bagi kaum muslimin dari bangsa Arab  mungkin relatif lebih mudah untuk memahami dan menangkap makna dan maksud firman Allah yang terkandung dalam kitab suci ini, karena memang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Namun bagaimana dengan ummat Islam non Arab?

Untuk mereka pun, cara terbaik dan terideal adalah dengan mempelajari bahasa Arab terlebih dulu. Dan cara inilah yang ditempuh masyarakat muslim sepanjang sejarah, yakni dengan menjadikan pelajaran bahasa Arab sebagai salah satu materi pelajaran pokok yang diprioritaskan bagi para pelajar dan penuntut ilmu di kalangan putra putri kaum muslimin. Posisinya sejajar dan setara dengan materi-materi ilmu agama secara umum. Dan memang akhirnya bahasa Arab tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam dan juga kaum muslimin itu sendiri.

Bagi mereka ia tidak lagi dipandang dan disikapi sebagai bahasa milik bangsa Arab, tapi ia telah menjadi bahasa agama, bahasa Islam dan bahasa milik kaum muslimin semuanya. Sehingga tidak heran jika sepanjang sejarah, banyak sekali pakar bahasa Arab dan ulama syariah di berbagai bidang dan disiplin ilmu syar’i dari kalangan bangsa muslim non Arab, yang tidak hanya setara dengan para ulama asli Arab, namun justru menandingi dan mengungguli mereka. Dan karya-karya ilmiah mereka di bidang tafsir, hadits, fiqih dan lain-lain, yang tentu semuanya ditulis dengan bahasa Arab, telah menjadi rujukan dan referensi utama bagi ummat Islam sepanjang masa.

Bagi kaum muslimin non Arab yang telah belajar, memahami dan bahkan menguasai bahasa Arab, tentu saja sudah tidak ada kendala lagi untuk bisa memahami dan menghayati Al-Qur’an, setidaknya dari aspek bahasa. Namun tentu juga tidak semua orang Islam bisa memiliki kemampuan itu. Bahkan faktanya, mayoritas kaum muslimin di berbagai belahan dunia tetap pada kondisi tidak mengerti dan tidak menguasai bahasa Al-Qur’an ini. Dari fakta dan realita inilah maka muncul tuntutan kuat dan kebutuhan mendesak agar Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa lain, sehingga bisa dipahami dan dimengerti oleh setiap ummat Islam dari berbagai bangsa yang berbeda-beda.(*)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Ahli Apakah Kita

(Oleh: KH. Ahmad Mudhofar Jufri) Baginda Sayyiduna Nabiyullah...Selengkapnya

Menuju Keberkahan Hidup

Oleh : KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc. M.Ag. Indikator dari berkahnya kehidupa...Selengkapnya

Antara Ikhlas dan Pahala

Oleh: KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc   Bismillah.. ...Selengkapnya

Berita Terbaru

2 Mahasiswa Raih Juara di MTQ Jatim ke-28

Alhamdulillah… prestasi gemilang kembali diukir mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah Surabaya. Prest...Selengkapnya

Turut Berduka Cita atas Wafatnya Bapak Moch. Hasyim,SE

Segenap Civitas Akademika STIDKI AR RAHMAH Surabaya turut berduka cita atas wafatnya  Bapak ...Selengkapnya

Kuliah Umum Hakikat Dakwah Syekh Muhammad Husaini Faraj

Untuk yang kesekian kalinya, STIDKI Ar-Rahmah Surabaya mendatangkan tamu istimewa untuk memberika...Selengkapnya