Berlindung dari Segala Keburukan

Berlindung dari Segala Keburukan

(Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA)

Firman Allah SWT: Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (1). Dari kejahatan makhluk-Nya (2). Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3). Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (4). Dan dari kejahatan pendengki apabila ia mendengki (5). Surat ini disebut Al-Falaq yang antara lain bermakna waktu shubuh atau makhluq secara keseluruhan. Surat Al-Falaq merupakan salah satu dari al-mu’awwidzaat (surat-surat perlindungan, yakni Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas) atau al-mu’awwidzatain (dua surat perlindungan, yakni Al-Falaq dan An-Naas),

Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa memohon penjagaan dan perlindungan kepada-Nya dari segala bentuk dan sumber kejahatan serta keburukan, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, yang diketahui ataupun yang tidak diketahui, secara umum dan global ataupun secara khusus. Adalah suatu hal yang istimewa ketika surat-surat tersebut secara khusus disebut sebagai surat-surat perlindungan, padahal semua surat atau ayat dalam Al-Qur’an tidak lain adalah perlindungan juga. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa setelah turunnya Al-Falaq dan An-Naas, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mencukupkan diri dengan keduanya saja dalam permohonan perlindungan dari keburukan dan kejahatan jin serta manusia (lihat hadits Abu Sa’id Al-Khudriy riwayat At-Tirmidzi, An-Nasaa-i dan Ibnu Majah).

Dalam sebuah hadits riwayat Al-Baihaqi, diceritakan bahwa surat Al-Falaq dan An-Naas diturunkan sebagai ruqyah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat disihir oleh seorang Yahudi yang bernama Labid bin al-A’sham dengan sebelas buhul (simpul tali), dimana setiap kali dibacakan satu demi satu ayat-ayat dari kedua surat tersebut maka terlepaslah buhul-buhul itu satu persatu. Kisah tentang disihirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sendiri terdapat dalam Shahih Al-Bukhari.

Dalam surat ini, demikian pula surat sesudahnya yaitu An-Naas, Allah memerintahkan kita semua untuk ber-isti’adzah dengan firman-Nya Qul, yang bermakna : Katakanlah. Ini berarti bahwa pengucapan dengan lisan merupakan bentuk terbaik dari permohonan perlindungan kepada Allah, demikian pula doa pada umumnya.

Perlu kita ketahui, permohonan dan doa kita kepada Allah pada dasarnya bisa dibedakan menjadi tiga: isti’anah (permohonan pertolongan), isti’adzah (permohonan perlindungan), dan istighatsah (permohonan keselamatan). Isti’anah adalah memohon kepada Allah agar memberikan kepada kita hal-hal  baik dan syar’i yang kita inginkan. Isti’adzah adalah memohon kepada Allah agar menjauhkan dan menghindarkan kita dari hal-hal buruk yang bisa menimpa diri kita. Sedangkan istighatsah adalah memohon kepada Allah untuk melepaskan kita dari hal-hal buruk yang sedang terjadi dan menimpa diri kita.

Ketiga bentuk permohonan dan doa tersebut hanya boleh kita tujukan kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya, karena doa adalah ibadah (sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam: ”Doa adalah ibadah” (HR. Muslim). Sementara ibadah hanya boleh kita tujukan kepada Allah saja sebagai bukti dan wujud kemurnian tauhid dan keikhlasan iman kita.

Isti’adzah, sebagai salah satu bentuk doa kita kepada Allah, merupakan sikap dasar kita dalam menghadapi berbagai keburukan dan kejahatan. Ini berarti, setiap kali kita mendapati kemungkinan ditimpa suatu keburukan atau kejahatan, kita hendaknya segera berlindung kepada Allah Yang Maha Melindungi dari keburukan dan kejahatan tersebut, disertai sikap dan tindakan menghindar serta menjauh darinya, sebagai bukti kesungguhan kita dalam ber-isti’adzah (memohon perlindungan). Sehingga dengan demikian, berdasarkan kaidah dan konsep isti’adzah tersebut, tidak dibenarkan kita berada dekat-dekat dengan sumber, tempat dan situasi keburukan atau kejahatan yang bisa membahayakan diri kita.  Lebih-lebih lagi jangan sampai misalnya kita malah menantang-nantang atau bahkan mencari-cari suatu keburukan dan kejahatan. Ini selaras dengan himbauan Rasulullah sahallalahu ’alaihi wasallam: ”Janganlah kalian mengharap-harap bertemu musuh. Akan tetapi jika musuh telah datang menghampiri kalian maka bersikaplah tegar dan sabar (dalam menghadapinya).” (HR. Muttafaq ’alaih). (*)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Istiqomah Berdzikir

Oleh : Ust. Muhammad Sholeh Drehem Lc Pada hakekatnya, setiap lafal dzikir ma&rsq...Selengkapnya

Kebenaran, Kebaikan dan Peluang

(Oleh: KH. Ahmad Mudhofar Jufri) Kebenaran dan kebaikan itu dari dan milik Allah....Selengkapnya

MENYIKAPI UJIAN

Oleh KH M Sholeh Drehem,Lc   Bismillah... LaKAL ...Selengkapnya

Berita Terbaru

Kita Layak Memimpin

Ustadz Shobikh pada Upacara HUT Kemerdekaan ke-74: Kita Layak Memimpin ...Selengkapnya

Kita Layak Memimpin

Ustadz Shobikh pada Upacara HUT Kemerdekaan ke-74: Kita Layak Memimpin ...Selengkapnya

Setiap Masjid Harus Memiliki Gerai

Ilmu itu diikat dengan mencatat. Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan Ustadz Fathurrahman Ma...Selengkapnya