3 Peran Masjid di Era Revolusi Industri 4.0

3 Peran Masjid di Era Revolusi Industri 4.0

Di luar rencana, tiba-tiba Rabu (25 September) kemarin keluarga besar STIDKI Ar-Rahmah Surabaya kedatangan tamu istimewa dari Universitas Sains Malaysia. Beliau adalah Prof. Dr. Muhammad Reevani bin Bustami. Beberapa hari yang lalu Prof. Dr. Muhammad Reevani bin Bustami memang sedang melakukan penelitian studi kasus di Asia Tenggara, dan Indonesia termasuk yang dikunjungi, dan Surabaya adalah salah satunya.

Di sela-sela waktu luang, beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke kampus STIDKI Ar-Rahmah yang disambut langsung oleh Ust. Habibul Muiz, Lc., Puket IV STIDKI Ar-Rahmah. Puket I, Ust. Fathurrahman Masrukan, Lc. MA. juga berkesempatan menemani bersama jajaran asatidz lainnya. Acara dadakan dan hanya berlangsung bakda Ashar hingga Maghrib itu pun sekaligus disulap menjadi semacam kegiatan Mimbar Inspirasi, bertemakan “Peluang dan Peran Masjid dalam Membangun Peradaban.”

Prof. Dr. Muhammad Reevani menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan kemasjidan. Perkembangan tehnologi begitu cepat berkembang dalam kehidupan manusia, termasuk arus globalisasi yang tidak bisa terbendung lagi. Disertai dengan tekhnologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era Revolusi Industri 4.0.

“Di sisi lain, justru dengan pesatnya tehnologi membuat hidup semakin tidak baik. Permasalahan-permasalahan jadi semakin komplek. Tehnologi dibangun untuk membinasakan masyarakat, kesenjangan sosial semakin jelas dan permasalahan yang lain yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. Hingga pada sebuah kesimpulan, tehnologi bukanlah solusi yang tepat dalam menyelesaikan persoalan kehidupan,” terang beliau.

Maka, bila kita intropeski ke belakang, justru yang menjadi solusi utama dalam menyelesaikan setiap persoalan manusia adalah agama. Agama menjadi rujukan utama. Lalu pertanyaannya, di manakan peran agama Islam sekarang?, Dimanakonsep Islam dalam membangun segala aspek kehidupan?

Maka, tambah Prof. Dr. Muhammad Reevani, untuk menjawab semua itu, kita kembalikan kepada peran masjid. Masjid tidak hanya terbatas sebagai tempat imam saja. Akan tetapi harus bisa mentransformasikan fungsi masjid ke khalayak masyarakat. Dalam hal ini juga diperlukan seorang imam yang mampu menjadi imam di dalam masjid sekaligus menjadi imam di luar masjid. Imam masjid harus mampu berperan dalam menyelesaikan masalah keumatan. Karena itu ia dituntut kaya akan ilmu dan mampu memahami kondisi masyarakatnya.

Dalam era seperti itu, menurut beliau, peran masjid terbagi menjadi tiga: masjid sebagai pemberdaya masyarakat, masjid selaku solusi kehudupan dengan segala persoalan yang ada, dan masjid harus mampu melibatkan masyarakat dalam membangun kemajuan masjid tersebut dan harus ada perencaan yang baik dan matang.

“Dari 3 fungsi dan peran itulah kemudian nampak bahwa fungsi-fungsi masjid benar-benar berperan membangun peradaban,” ujar beliau sembari berharap agar mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah dapat menerima ilmu dengan baik sehingga bermanfaat ketika kelak terjun di tengah masyarakat. (Fathul Mu’in)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Strategi Dakwah via Sosial Media

Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat dakwah melalui media sosial nampaknya sudah tida...Selengkapnya

Keutamaan Bersholawat

Oleh : KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc. M.Ag. Apa yang Anda rasakan ketika Anda...Selengkapnya

MAKNA PERSAHABATAN

Oleh : KH. M. Sholeh Drehem, Lc   Bismillah..  ...Selengkapnya

Berita Terbaru

Turut Berduka Cita atas Wafatnya Bapak Moch. Hasyim,SE

Segenap Civitas Akademika STIDKI AR RAHMAH Surabaya turut berduka cita atas wafatnya  Bapak ...Selengkapnya

Kuliah Umum Hakikat Dakwah Syekh Muhammad Husaini Faraj

Untuk yang kesekian kalinya, STIDKI Ar-Rahmah Surabaya mendatangkan tamu istimewa untuk memberika...Selengkapnya

3 Peran Masjid di Era Revolusi Industri 4.0

Di luar rencana, tiba-tiba Rabu (25 September) kemarin keluarga besar STIDKI Ar-Rahmah Surabaya k...Selengkapnya