Mengenal Konsep Islam Moderat

Mengenal Konsep Islam Moderat

Oleh: Ust. Fathurrahman MS, Lc, MA, M.Ed.

 

Kerap kita mendengar ada yang mempertanyakan kenapa Anda mengajak kepada Islam moderat, padahal istilah tersebut banyak dipakai oleh kelompok orang yang berpaham liberal atau sekuler? Apakah Anda termasuk mereka yang mengusung pemikiran sesat itu ? Dan banyak pertanyaan sejenis yang mengharuskan sebuah klarifikasi.

Seperti sudah menjadi keharusan opini di berbagai media massa, bahwa di zaman globalisasi, corak keberislaman yang baik adalah menjadi Muslim yang moderat. Istilah “moderat” ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh berbagai kalangan, baik cendekiawan, penceramah, mahasiswa muslim atau berbagai kalangan yang concern dengan gerakan pembaharuan dalam dakwah Islam.

Memang pada awal kemunculannya istilah ini banyak dipakai oleh pihak yang mengajak kepada pemahaman islam yang progessif, actual dan tidak ketinggalan zaman sehingga lewat bibir-bibir merekalah kata ini menjadi tren baru dalam tradisi keislaman. Maka perlu kiranya ada penjelasan ilmiah yang mengupas masalah ini. Istilah moderat (moderate) berasal dari bahasa Latin moderare yang artinya mengurangi atau mengontrol.

Kamus The American Heritage Dictionary of the English Language mendefinisikan moderate sebagai: not excessive or extreme (tidak berlebihan dalam hal tertentu). Kesimpulan awal dari makna etimologi ini bahwa moderat mengandung makna obyektif dan tidak ekstrim, sehingga definisi akurat Islam Moderat adalah nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan (i’tidal dan wasath).

Sebagai satu sistem ajaran dan nilai, sepanjang sejarahnya, Islam tidak menafikan kemungkinan mengambil istilah-istilah asing untuk diadopsi menjadi istilah baru dalam khazanah Islam. Tetapi, istilah baru itu harus benar-benar diberi makna baru, yang sesuai dengan Islam.

Istilah itu tidak dibiarkan liar, seperti maknanya yang asli dalam agama atau peradaban lain. Kita sudah banyak mengambil istilah baru dalam Islam, seperti istilah “agama”, “pahala”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, yang berasal dari tradisi Hindu, tetapi kita berikan makna baru yang sesuai dengan konsep Islam.

Dari peradaban Barat, kita mengambil banyak istilah, seperti istilah “worldview”, “ideologi”, dan sebagainya. Semua istilah bisa diadopsi, asalkan sudah mengalami proses adapsi (penyesuaian makna) dengan makna di dalam Islam, sehingga tidak menimbulkan kekacauan makna.

Menurut Syaikh Yusuf Al Qardhawi, wasatiyah (pemahaman moderat) adalah salah satu karakteristik islam yang tidak dimiliki oleh Ideologi-ideologi lain. Dalam Al Qur’an dijelaskan: “Dan demikianlah aku jadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.”(QS. Al Baqarah: 143).

Beliau termasuk deretan ulama yang menyeru kepada dakwah Islam yang moderat dan menentang segala bentuk pemikiran yang liberal dan radikal. Liberal dalam arti memahami Islam dengan standar hawa nafsu dan murni logika yang cenderung mencari pembenaran yang tidak ilmiah. Radikal dalam arti memaknai Islam dalam tataran tekstual yang menghilangkan fleksibilitas ajarannya, sehingga terkesan kaku dan tidak mampu membaca realitas hidup.

Padahal Rasulullah menegaskan : “Hindarilah sifat berlebihan dalam agama. Karena Umat sebelum kalian hancur hanya karena sifat tersebut.” (HR. Bukhari). Di dalam istilah ini, tercermin karakter dasar Islam yang terpenting yang membedakan manhaj Islam dari metodologi-metodologi yang ada pada paham-paham, aliran-aliran, serta falsafah lain.

Sikap wasathiyah Islam adalah satu sikap penolakan terhadap ekstremitas dalam bentuk kezaliman dan kebathilan. Ia tidak lain merupakan cerminan dari fithrah asli manusia yang suci yang belum tercemar pengaruh-pengaruh negatif.

Menurut Dr Muhammad Imarah, Istilah wasathiyah termasuk yang sering disalahartikan. Dalam bukunya, Ma’rakah al Mushthalahat bayna al-Gharb wa al-Islam (Perang Terminologi Islam versus Barat), beliau menjelaskan dengan cukup panjang lebar makna konsep al-wasathiyah di dalam Islam. Istilah al-wasathiyah dalam pengertian Islam mencerminkan karakter dan jati diri yang khusus dimiliki oleh manhaj Islam dalam pemikiran dan kehidupan, dalam pandangan, pelaksanaan, dan penerapannya. Wallahu a’lam bisshowab. (*)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Hati-hati dengan Dendam

Oleh: KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc   Bismillah... ...Selengkapnya

Buah Kesempurnaan Iman

Oleh: Ustadz Herma Musyanto, S.Si. Perihal pentingnya akhlak dalam kehidupan s...Selengkapnya

Mengenal Konsep Islam Moderat

Oleh: Ust. Fathurrahman MS, Lc, MA, M.Ed.   Kerap kita mendenga...Selengkapnya

Berita Terbaru

Sinergi Qurani Membangun Negeri Melalui Tahfizh Awards 2019

Dalam rangka turut serta menguatkan sinergitas dan kolaborasi antar berbagai lembaga penggiat t...Selengkapnya

2 Mahasiswa Raih Juara di MTQ Jatim ke-28

Alhamdulillah… prestasi gemilang kembali diukir mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah Surabaya. Prest...Selengkapnya

Turut Berduka Cita atas Wafatnya Bapak Moch. Hasyim,SE

Segenap Civitas Akademika STIDKI AR RAHMAH Surabaya turut berduka cita atas wafatnya  Bapak ...Selengkapnya