Catatan Magang Manajemen Masjid di Singapura

Catatan Magang Manajemen Masjid di Singapura

Ada catatan menarik ketika kami bertiga (Aulia Abdilah, Imam Hanafi Al Mufti dan Irsyad Zakiyudin) melanjutkan magang tugas akhir manajemen masjid di Singapura. Setiba di bandara Singapura, setelah bertolak dari Johor Malaysia, kami berkesempatan mengunjungi Masjid Sultan Singapore, salah satu masjid terbesar di Singapore yang memiliki sejarah panjang dan manajemen masjid yang begitu modern. Masjid Sultan ini sebenarnya adalah Masjid Sultan ke-2, karena setelah adanya renovasi besar selepas Singapore diduduki pnjajahan British, mulailah Masjid Sultan ini diperbesar lagi dengan renovasi yang megah. 
Masjid Sultan Singapore ini bahkan memilik ISO 1990 yang menjadi bukti bahwa profesionalitas manajemen masjid ini sangat luar biasa, mulai dari manejemen yang sifatnya teknis, operasional, akunting, sampai program-program masjid ini menjadi hal yang sangat menarik untuk dipelajari. 
Imam di Masjid Sultan ini memiliki departemen sendiri tentunya, mulai dari Ketua Departemen Imam Masjid Sultan, Imam Eksekutif, dan Imam Full Time, Imam Part Time, dan lain sebagainya. Salah satu imam Part Time di masjid orang Indonesia asal Lombok. Masjid Sultan juga tentu memiliki manajemen planning dalam program-programnya, mulai long planning sampai short planning atau regular. Long planning misalnya perencanaan teratur untuk Bulan Suci Ramadhan dan hari-hari besar Islam lainnya. 
Di Masjid ini juga tentu Foreign Service, semacam pelayanan khusus buat para turis-turis asing yang ingin mempelajari, observasi, sekedar melihat-lihat dan lainnya dari berbagai penjuru dunia seperti Inggris, Amerika, Korea, Jepang, dan sebagainya. Mereka dilayani dengan pelayanan yang profesional, mulai dari pakaian khusus turis, untuk turis wanita memakai pakaian seperti jubah berwarna hijau, adapun untuk turis pria memakai sarung khusus. Jam kunjungan para turis ini tentu ada jadwal waktunya, yang paling ramai adalah saat sebelum dan selepas shalat Dhuhur. Di sini juga ada museum sejarah berdirinya Masjid Sultan. 
Berikutnya adalah perjalanan ke Masjid Ba’alwi Singapore. Masjid yang bisa dibilang masjid yang berdiri sendiri, dan bersistem sendiri, dan tidak dibawahi oleh Pemerintah Agama Singapore. Masjid ini memiliki kewenangan sendiri dalam kepengurusannya, sebab pemilik masjid ini merupakan salah satu Habib, seorang yang memiliki nasab sampai kepada Nabi Agung Muhammad SAW. 
Secara umum, masjid-masjid di Singapore memiliki manajemen yang terstandar dari segala aspeknya, bisa disebut sebagai masjid modern, mulai dari masjid yang di pinggir jalan utama, maupun masjid yang berada di belakang apartemen. Adapun masjid-masjid yang di belakang apartemen ini kebanyakan dahulunya adalah dikelilingi Kampung Melayu. Namun dengan  berjalannya waktu orang-orang di perkampungan ini dipindahkan ke apartemen-apartemen/flat, dan tanahnya dikelola untuk sarana dan fasilitas umum modern lainnya. Kami pun berkesempatan mengunjungi Masjid Omar, Masjid Malabar, Masjid Darul Aman, dan lainnya. 
Masjid-masjid di Singapore tidak semuanya diperbolehkan mengumandangkan adzan dengan speaker luar atau loudspeaker, Pemerintah Singapore mesti mengecek secara detail keefektifitasan dari adzan masjid masing-masing. Semisal jika adzan dengan loudspeaker ini bisa mendatangkan jama’ah yang banyak, maka itu diperbolehkan. Namun jika jama’ahnya tidak mencukupi standar yang ditentukan, maka di masjid itu tidak diperbolehkan mengumandangkan adzan secara loudspeaker. 
Salah satu masjid yang diperbolehkan salah satunya adalah Masjid Sultan, karena masjid ini boleh dibilang sebagai Masjid Central, Masjid Legenda di Singapore, terletak juga di tempat strategis dan banyak turis. 
Sedangkan masjid yang tidak diperbolehkan misalnya Masjid Ba’alwi, karena memang kuantitas jama’ahnya tidaklah banyak dan juga lingkungan di masjid ini adalah perumahan orang non-muslim. Undang-undang Singapore memang memperbolehkan aduan kebisingan bagi warganya yang merasa terganggu dengan adzan berloudspeaker luar.
Tentang imam di masjid-masjid Singapore juga bervariasi. Seperti di Masjid Sultan, imam harus mematuhi SOP (standar operasional prosedur) yang ditentukan manajemen masjid. Ada Imam Full Time (Imam Utama)  lalu di bawahnya ada Imam Part Time (Imam Cadangan). 
Imam di Masjid Sultan pun harus memiliki pengetahuan ilmu agama Islam yang baik juga, sebab mereka juga menjadi ulama dan mufti yang mesti mampu menjawab dan memecahkan persoalan agama yang ditanyakan jamaah.
Catatan lain, beda dengan di Malaysia yang sudah biasa diadakan tadzkirah (ceramah kultum) selepas Shalat Maghrib dan tahsin Qur’an selepas shalat Shubuh, di Singapore tidak kami temui hal seperti ini. Kalau di Masjid Sultan sendiri program Qur’an ada sendiri pembagian waktunya, jadi jama’ah yang berminat bisa mendaftar, tetapi di Masjid Ba’alwi ini lebih aktif digunakan untuk acara shalawatan kubro, dan lainnya. (Hanafi Al-Mufti)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Figur Abadi dan Fenomenal Sepanjang

(Oleh : Ust. Ahmad Habibul Muiz, Lc.) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasall...Selengkapnya

AYO SEMANGAT, JANGAN MALAS

Oleh : KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc   Bismillah.. ...Selengkapnya

Cara Allah Mendewasakan Hamba-Nya

Oleh : KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc. M.Ag. Hidup Ini seperti uang koin yang ...Selengkapnya

Berita Terbaru

Mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah adalah Pilihan Allah

Mahasiswa STIDKI AR-Rahmah adalah pilihan Allah. Kampus STIDKI Ar-Rahmah hanya washilah&...Selengkapnya

21 Mahasiswa Sidang Skripsi secara Daring

Dengan semangat ingin mempersembahkan karya terbaiknya, Senin (8 Juni) pagi kemarin, Try Ma&rsquo...Selengkapnya

Halal bi Halal Online, Ajang Penguatan Harapan dan Kerjasama

Alhamdulillah…. Halal bi Halal Online Keluarga Besar Yayasan Ibadurrahman dan STIDKI Ar-Ra...Selengkapnya