Menjadi Imam di Dalam dan di Luar Masjid

Menjadi Imam di Dalam dan di Luar Masjid

Proses pendaftaran mahasiswa baru (PMB) STIDKI Ar-Rahmah tahun ini sudah memasuki bulan kedua. Ada baiknya me-refresh kembali bagaimana sosok kampus pencetak pemimpin masa depan ini, untuk juga mengingatkan kembali betapa perjuangan itu butuh konsistensi dan kompetensi.

Ini tentu menyangkut model pembelajaran di dalamnya. Memang beberapa sekolah, pesantren, atau universitas Islam mempunyai titik poin masing-masing. Misalnya, banyak di antaranya yang hanya mencetak penghafal Al Qur’an atau lulusan yang hanya menguasai displin ilmu tertentu.

STIDKI Ar-Rahmah mencetak pemimpin masa depan, seorang penghafal Al Qur’an yang mempunyai keilmuan agama yang mumpuni, lihai dalam berkomunikasi dengan publik, serta mampu menjadi manajer masjid yang handal.

Mereka yang lulus dari STIDKI Ar Rahmah adalah imam di dalam dan di luar masjid. Tak hanya imam shalat berjama’ah, namun juga penggerak kebaikan bagi masyarakat di sekitarnya. Model pendidikan yang disiapkan pun menggabungkan tiga gugus kompetensi besar.

Pertama, kompetensi imamah dan hafalan alqur’an 30 juz. Kedua, kompetensi manajemen masjid, termasuk manajemen stratejik, keuangan, operasional, pemasaran dan sebagainya. Ketiga, kompetensi pemahaman keislaman dan dakwah.

Bagi STIDKI Ar-Rahmah, pemimpin masa depan haruslah mampu menjadi imam yang disenangi para jama’ahnya, baik di dalam urusan sholat maupun kehidupan sehari-hari. Serta harus mampu memakmurkan dan membangun citra masjid yang positif di masyarakat. Di sisi lain, pemimpin masa depan juga harus memiliki pemahaman agama yang baik. Sebab sebagai ulama ia harus bisa mencerahkan permasalahan masyarakat terkait masalah keluarga, hokum waris, sosial, dan sebagainya.

Ustadz Ahmad Faiz Khudlari Thoha,Pembantu Ketua III STIDKI Ar-Rahmah mengatakan, STIDKI Ar-Rahmah bertekad pemimpin masa depan yang kuat dalam ketiga aspek di atas. Sehingga, karakter-karakter kepemimpinan terus ditumbuhkembangkan dalam diri mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun di pesantren mahasiswa. Salah satu kampanye positif yang dikembangkan di Pesantren Mahasiswa STIDKI Ar Rahmah adalah budaya ‘sang pejuang’, yang merupakan akronim dari nilai-nilai utama yang perlu ditumbuhkembangkan dalam diri mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah sebagai para calon pemimpin ummat.

Secara filosofis, makna ‘sang pejuang’ memunculkan pesan bahwa seorang pemimpin harus selalu mempunyai semangat untuk tidak bermalas-malasan serta bersungguh-sungguh memperbaiki diri untuk berkontribusi terhadap bangsa dan agama. ‘Sang pejuang’ merupakan singkatan dari ‘San’ yang berarti ‘santun’. Sosok da’I hendaknya senantiasa bersikap santun dalam tingkah dan tutur kata, menghormati yang orang lain, menghargai perbedaan, dan serta menjadi agen penyatu ummat. Kemudian ‘G’ yang berarti ‘giat’. Sosok pemimpin harus punya semangat untuk melakukan aktivitas terbaik dan positif, bersegera dalam menuntaskan kewajiban, menciptakan atmosfir produktif, bukan yang bermalas-malasan.

Kemudian ‘Pe’ yang berarti ‘peduli’.Tidak bersifat abai terhadap lingkungan sosial, peduli dengan kawannya yang sedang sakit,peduli terhadap isu-isu keumatan dan kebangsaan.‘Ju’ yang berarti ‘Jujur’ dan ‘An’ yang berarti ‘Amanah’. Artinya seorang pemimpin harus berusaha konsisten terhadap amanah yang dititipkan kepadanya, sekecil apapun amanah tersebut. Terakhir, ‘G’ yang berarti  ‘Gemar membaca’.

Pembiasaan Positif

Selain itu, pembiasaan positif dibangun agar para mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah memiliki aktifitas produktif dan bermanfaat. Di antara pembiasaan positif tersebut adalah kebiasaan untuk tidak lepas dari al-qur’an, selalu memiliki semangat menghafal dan mengjaga hafalan,lebih dekat dengan qur’an, giat melakukan kewajiban sholat, giat membersihkan kamar dan tempat tidur, dan sebagainya.

Di sisi lain, BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) STIDKI Ar-Rahmah juga aktif melakukan gerakan-gerakan positif. Salah satunya gerakan 10 shaf terdepan. “Hal ini dilakukan agar mereka memiliki atmosfir untuk berlomba-lomba dalam melakukan sholat berjamaah di masjid dan mengisi shaf terdepan,” paparnya. Penegakan kedisiplinan pun dilakukan. Budaya hidup berdisiplin juga dibangun dari oleh dan untuk mahasiswa, seperti dalam pengelolaan kebersihan atau kedisiplinan dan budaya tawashi untuk mencapai target hafalan. Di samping itu, punishment juga diberlakukan bagi mereka yang tidak disiplin dengan bentuk yang beragam dalam rangka memberikan efek jera dan semangat perbaikan diri bagi mahasiswa.

Praktikum Nyata

STIDKI Ar-Rahmah memiliki berbagai ‘kegiatan lapangan’ seperti magang manajemen masjid dan Kuliah Kerja Dakwah. Dalam hal ini STIDKI Ar-Rahmah memberikan kesempatan-kesempatan kepada para mahasiswa untuk terjun di ‘lapangan’. STIDKI Ar-Rahmah pun melakukan kerjasama dengan berbagai masjid yang telah memiliki sistem manajemen yang matang seperti masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Masjid Al-Falah Surabaya, serta beberapa masjid model lainnya.

“Kondisi real di lapangan perlu mereka ketahui. Untuk itu, kita juga memiliki kegiatan pengiriman imam tarawih yang tak hanya menyentuh masjid-masjid di Surabaya, tapi juga di luar kota, bahkan luar Jawa Timur,” jelasnya.

BEM STIDKI Ar-Rahmah juga pernah memberangkatkan 7 relawan mahasiswa untuk membantu korban gempa Lombok beberapa waktu lalu. “Mereka berangkat dengan membawa donasi yang mereka galang dari para donatur hingga sekitar 75 juta rupiah. Selama sekian hari di Lombok, mereka terlibat langsung dalam membantu trauma healing, dakwah keagamaan, serta kegiatan sosial lainnya, bersinergi dengan tim relawan yang lain,” imbuhnya.

BEM STIDKI Ar-Rahmah juga mengumpulkan donasi sekitar 54 juta rupiah berserta barang-barang non uang untuk korban gempa Palu yang disalurkan melalui lembaga kemanusiaan kredibel, yaitu I Care dan ACT (Aksi Cepat Tanggap).

STIDKI Ar-Rahmah menerapkan pola pembelajaran yang tidak hanya berbentuk ceramah, tetapi juga diskusi dan presentasi.Ini berguna untuk membentuk kemampuan public speaking yang mumpuni bagi mahasiswa.

Latihan public speaking serta penyediaan sarana praktek kultum dan ceramah di depan masayarakat umum juga menjadi wadah dan kesempatan mahasiswa untuk mengeksplor kemampuan dakwah mahasiswa. (Ibadurrahman)

Leave a comment


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode

0 Comments

Artikel Terbaru

Waktu Fajar sebagai Lambang Kehidupan

(Oleh : Ust. Ahmad Habibul Muiz)   Rasulullah shalallahu alaihi...Selengkapnya

Kiat Menghilangkan Sikap Egoistis

Oleh: KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc   Bismillah... ...Selengkapnya

Inilah JALAN Bahagia

Oleh: KH. Muhammad Sholeh Drehem, Lc   Bismillah.. ...Selengkapnya

Berita Terbaru

Menjadi Imam di Dalam dan di Luar Masjid

Proses pendaftaran mahasiswa baru (PMB) STIDKI Ar-Rahmah tahun ini sudah memasuki bulan kedua. Ad...Selengkapnya

Workshop Penulisan Jurnal dan Karya Ilmiah

Menyusul sukses workshop pertama awal Januari lalu, kembali di awal Pebruari ini STIDKI Ar-Rahm...Selengkapnya

Workshop 5R untuk Seluruh Karyawan

Segenap Keluarga Besar Yayasan Ibadurrahman memadati aula Asrama Mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah Surab...Selengkapnya