Februari

24

2020

Penyakit Ain itu Nyata

(Oleh : Ust. Fathurrahman Masrukhan, Lc., MA, M.Ed.)

 

Pandangan mata bisa menyebabkan orang lain sakit, atau bahkan meninggal. Pandangan mata yang demikian disebut penyakit ‘ain, yakni penyakit atau gangguan yang disebabkan pandangan mata.

Oleh karena itulah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:  “Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).

Sebagaimana Firman Allah SWT: Dan Ya’qub berkata, "Hai anak-anakku, janganlah kalian (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang lain-lain; namun demikian, aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikitpun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS. Yusuf 67)

Allah Swt. menceritakan tentang Nabi Ya'qub a.s., bahwa dia memerintahkan kepada anak-anaknya ketika melepas keberangkatan mereka bersama Bunyamin menuju negeri Mesir, bahwa janganlah mereka masuk dari satu pintu gerbang semuanya, tetapi hendaklah masuk dari berbagai pintu gerbang yang berlainan.

Menurut para ulama, hal itu untuk menghindari 'ain. Sebab mereka adalah orang-orang yang berpenampilan bagus dan mempunyai rupa yang tampan-tampan serta kelihatan berwibawa. Maka Ya'qub a.s. merasa khawatir bila mereka tertimpa 'ain disebabkan pandangan mata orang-orang.

Ibnu Katsir berpendapat, janganlah kita menjadi pusat perhatian karena orang yang menjadi pusat perhatian akan terkena mudharat, terutama dari orang yang memandangnya dengan sifat hasad.

Maka janganlah kita memposisikan sebagai orang yang jadi pusat perhatian, karena menjadi sumber penyakit ‘ain. Janganlah menampakkan kenikmatan pada orang lain khususnya dalam ranah publik. Bukankah sudah sama-sama kita ketahui, di jaman ini, para artis suka pamer kekayaan berapa digit kekayaannya. Mereka juga pamer mobil dan kemewahan lainnya.

Lalu bagaimana cara kita menghindari penyakit ‘ain ini? Pertama, Rasulullah mengajarkan doa sebagaimana dalam dzikir pagi dan sore : Allahumma inni as-aluka al-afiyah fid dunya wal akhirah, allahumma inni as-asluka al-‘afwa wal afiyah fii dini wadunyaya wa ahlî wa malii, allaahumma-stur ‘auraatii wa aamin rau‘aatii (Ya Allah, aku memohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut…”

Kedua, bila kita memuji janganlah lupa memohonkan keberkahan pada apa yang dilihatnya. Rasullullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

Kemudian, Rasulullah mengajarkan kita untuk menjadi hamba-hamba Allah yang tawadhu, rendah hati, tidak sombong, tidak takabur. Supaya pandangan orang bukan pandangan hasad. Bila dipuji janganlah takabur.

Senantiasalah berwudhu bagi yang memuji dan siramkanlah pada yang dipuji. Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata : Dahulu orang yang menjadi penyebab ‘ain diperintahkan untuk berwudhu, lalu orang yang terkena ‘ain mandi dari sisa air wudhu tersebut” (HR Abu Daud).

Terakhir, ruqyah syar’iyyah dan doa-doa. (*)

Jl. Teluk Buli I/3-5-7, Surabaya, Jawa Timur - Indonesia
031-3284306
Official@stidkiarrahmah.ac.id

© 2021 STIDKI AR RAHMAH. All Rights Reserved W3layouts