Maret

16

2020

Hindari Was-was Hadapi Corona

Virus corona sudah menjadi pandemik di seluruh dunia, bahkan di Indonesia. Maka kenali apa itu virus corona, bagaimana latar belakang dan pencegahannya, dan janganlah terlalu was-was namun tetap hati-hati, adalah sebagian dari sikap positif kita terhadap virus tersebut.

Demikian sekilas kesimpulan dari Seminar Internasional ‘Pengobatan Tradisional sebagai Media Dakwah dan Pencegahan Virus Corona’ yang diselenggarakan STIDKI Ar-Rahmah Surabaya, Minggu (15 Maret) kemarin. Narasumber dari acara yang diselenggarakan di hall asrama mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah tersebut adalah Tuan Dr. Muhammad Adzhar bin Abdulatif  (pakar pengobatan tradisional melayu dari Malaysia) dan Ibu Laura Navika Yamani M. Si, Ph. D (peneliti virus dan infeksi yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya).

Dr. Muhammad Adzhar bin Abdulatif memaparkan bagaimana menjaga imunitas dengan cara tradisional dan alami.  Menurut beliau, Malaysia dan Indonesia adalah serumpun dari suku melayu. Sebelum ada obat-obat modern seperti sekarang, nenek moyang kita dulu sudah menemukan obat dari segala macam penyakit, berupa akar-akar tumbuhan dan rempah-rempah. "Sejak dulu hospital memang sudah ada, tapi yang mampu membayar hanya sedikit. Makanya nenek dan datuk kita itu membuat klinik di dalam rumah dan meracik obat-obat herbal. Dan pasti mereka meraciknya dengan ilmu yang telah diwariskan secara turun-temunrun,” tambah beliau sembari menambahkan bahwa penyakit di zaman modern ini beranekagam, bahkan dimana-mana mulai bermunculan penyakit aneh-aneh. Semua kerusakan atau penyakit ini taklain karena perbuatan tangan kita sendiri. Dan salah satu sumber racun penyakit adalah makanan dan minuman cepat saji.

Sementara itu, Ibu Laura Navika Yamani M. Si, Ph.D. menguraikan, virus corona adalah wabah yang telah mencapai derajat pandemik (wabah teratas), setiap orang mempunyai kemungkinan terserang virus ini. Masuknya virus ini ke Indonesia berasal dari seorang berkewarganegaraan Jepang yang tinggal di Malaysia dan sempat berlibur di Indonesia.

Nama asli virus corona ini adalah Sars-cov yang ditemukan pada tahun 2002 di Cina, yang kemudian muncul kembali di Wuhan akhir 2019 lalu. Sars-cov berasal dari hewan sejenis burung (kelelawar) dan hanya menular ke sesama hewan sejenis dan sama sekali tidak menular kepada manusia. Keserakahan manusia di Cina yang mengkonsumsi kelelawarlah yang menjadi sumber penyebaran itu ke tubuh manusia. “Makanya sudah benar apa yang telah diatur dalam syariat Islam, termasuk dalam hal makanan, “ tambah Ibu Laura.

Ternyata virus corona itu bermacam-macam dan tidak semua corona mengakibatkan Covid-19. Wabah pandemik terbesar pernah terjadi di tahun 1918 yakni virus influensa. Juga virus sars.cov (2002) virus mers (di semenanjung Arab).

Lalu bagaimana pencegahan terhadap virus corona ini?  “Tidak boleh panik, hindari keramaian,  cuci tangan atau menjaga kebersihan terutama di tempat-tempat yang sering disentuh, dan jika kita sedang sakit lebih baik di rumah saja,” ujar beliau.

Yang paling penting adalah tidak panik, bersikaplah sebagaimana biasa. Pengaruh media menjadikan seolah-olah virus ini mengerikan. Padahal angka kematian akibat virus ini sangat kecil, 3 dari 100 orang, dibanding virus ebola yang angka kematiannya 80% serta demam berdarah yang bisa mencapai 50%.

Seminar tentang virus corona ini merupakan salah satu bentuk perhatian STIDKI Ar-Rahmah Surabaya terhadap fenomana masyarakat belakangan ini, termasuk memberikan sumbangsih bagaimana kita bersikap menghadapinya.

Karena itu, sebagaimana disampaikan Ketua STIDKI Ar-Rahmah, dr. Sobikhul Qisom, M.Pd., menghadapi virus corona kita harus ingat betul dan kembali lagi kepada Allah. “Jangan sampai kita menjaga kebersihan dan kesehatan diniatkan untuk terhindar dari corona. Jika seperti ini maka akan menimbulkan penyakit was-was. Maka cara terbaik, mari kita niatkan melakukan semuanya karena Allah, bukan karena virus, tapi karena pencipta virus tersebut,” ujar beliau.

Dalam seminar tersebut juga dilakukan acara penandatanganan kerjasama (MoU) antara Ketua STIDKI Ar-Rahmah dan Dr. Muhammad Adzhar bin Abdulatif. (Shohiful Aziz)

Jl. Teluk Buli I/3-5-7, Surabaya, Jawa Timur - Indonesia
031-3284306
Official@stidkiarrahmah.ac.id

© 2021 STIDKI AR RAHMAH. All Rights Reserved W3layouts