Juli

12

2021

Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijjah

(Oleh: KH. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA.)

Bulan Dzulhijah 1442 H segera menjelang. Inilah saat yang tepat untuk ber-fastabiqul khairat (berlomba kebaikan) khususnya dalam 10 hari pertama Dzulhijjah. Jika seseorang mampu mengoptimalkan upaya amal saleh dengan beragam macamnya di dalamnya, maka sangat memungkinkan iapun bisa menggapai kemuliaan derajat di sisi Allah dan kelipatan pahala dari-Nya, seperti yang didapat oleh jamaah yang sukses dengan hajinya, atau bahkan mengunggulinya.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Tiada hari, dimana beramal shalih padanya lebih Allah cintai selain hari-hari ini”, yakni 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah. Para shahabat bertanya: wahai Rasulullah, apakah termasuk jihad fi sabilillah juga tidak bisa (menandingi)?, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Termasuk jihad fi sabilillah sekalipun tidak bisa (menandingi), kecuali seorang lelaki yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya sendiri lalu tidak ada sesuatupun darinya yang kembali, yakni sampai gugur sebagai syuhada’” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Karena begitu mulianya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut, maka Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya, dalam firman-Nya (yang artinya): “Dan demi malam-malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr 89: 2), yang menurut Imam Ibnu Katsir dan jumhur mufassir lain rahimahumullah, maksud tafsirnya yang benar adalah 10 malam pertama bulan Dzulhijjah.

Maka sudah seharusnya kita mengistimewakan hari-hari termulia ini dengan amal-amal yang serba istimewa, utamanya untuk waktu siangnya, minimal seperti dan setara dengan sikap pengistimewaan kita terhadap bulan suci Ramadhan setiap tahun.

Sebagaimana umumnya, mengistimewakan Dzulhijjah ini adalah dengan ibadah haji dan umrah di Tanah Suci Mekkah, mengikuti shalat Idul Adha, dan mendengarkan khutbah seusainya. Juga menyembelih hewan qurban, dengan motivasi utama sebagai sebuah bentuk ibadah ritual persembahan kepada Allah, bukti penghambaan dan syiar deklarasi kemurnian tauhid kepada-Nya, dan bukan dengan sekadar niat bersedekah daging..

Selain hal-hal tersebut, lalu apa sikap yang harus kita tunjukkan dan amal serta ibadah apa sajakah yang sebaiknya kita kerjakan dalam upaya mengistimewakan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini?

Hal pertama yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam konteks ini adalah, menumbuhkan, menjaga dan meningkatkan keyakinan, kesadaran serta perasaan akan mulia, utama dan istimewanya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

Kemudian, memiliki dan menyimpan kejujuran niat, kesungguhan tekad dan ketinggian semangat untuk benar-benar mengistimewakan hari-hari teristimewa ini dengan bermacam ragam amal dan ibadah yang serba istimewa, demi mengharap derajat taqwa dan nilai pahala nan istimewa pula. Serta bermujahadah sebisa mungkin untuk tidak melewatkan sedikitpun dari waktu-waktunya secara sia-sia.

Berikutnya, menguatkan dan meningkatkan kepekaan rasa kewaspadaan keimanan, dengan senantiasa berupaya keras untuk menghindarkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan dan pelanggaran syar’i pada hari-hari termulia tersebut, baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban maupun dengan melakukan yang dilarang dan diharamkan.

Karena amal yang diistimewakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, berdasar hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma diatas, tidak dibatasi pada jenis amal tertentu, maka pada prinsipnya amal atau ibadah apapun, sekali lagi amal saleh dan ibadah apapun, baik yang bersifat ritual, sosial maupun lainnya, sesuai situasi, kondisi, kebutuhan dan kesanggupan masing-masing kita, bisa saja dilakukan dan sekaligus berpotensi untuk menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala, yang tentu saja berarti akan bernilai pahala super istimewa tiada tara.

Jika amal yang lebih diutamakan pada 10 malam terakhir Ramadhan adalah ibadah-ibadah spesial malam hari, seperti qiyamullail atau tahajjud, tadarus Al-Qur’an, itikaf, dzikir, doa, munajat, istighfar, dan semacamnya, maka yang lebih diistimewakan pada 10 hari pertama Dzulhijjah ini adalah jenis-jenis amal ibadah spesial siang hari, dan salah satu yang paling utama tiada lain adalah ibadah puasa. Maka disunnahkan dan dianjurkan agar setiap muslim memperbanyak puasa pada 10 hari ini, tentu saja kecuali tanggal 10-nya yang merupakan hari raya Idul Adha, dan yang memang diharamkan puasa padanya.

Juga amalan memperbanyak kumandang takbir, tahlil dan tahmid dengan suara keras di rumah-rumah, masjid-masjid, jalan-jalan, pasar-pasar dan lain-lain, pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Adapun untuk praktik takbir yang bersifat khusus terkait dengan syiar hari raya Idul Adha, maka menurut jumhur ulama disunnahkan agar dilakukan mulai selepas shalat subuh pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai shalat asar hari terakhir tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah), dimana ucapan takbir dikumandangkan pada setiap usai shalat fardhu dan diutamakan pada pagi hari raya Idul Adha saat seseorang berangkat ke tempat shalat Id. (*)

Jl. Teluk Buli I/3-5-7, Surabaya, Jawa Timur - Indonesia
031-3284306
Official@stidkiarrahmah.ac.id

© 2021 STIDKI AR RAHMAH. All Rights Reserved W3layouts