6 Juni 2026
Bem
BEM STIDKI Ar-Rahmah Bersama BEM STAI Luqman dan IQRO' Movement Gelar "Ruan...
Surabaya - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIDKI Ar-Rahmah Surabaya melalui Kementerian Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) berkolaborasi dengan BEM STAI Luqman Surabaya serta Komunitas Literasi IQRO' Movement menggelar kegiatan Ruang Tumbuh: Dari Buku ke Realita, Ngobrolin Buku La Tahzan, Proses dan Cerita di Balik Perjuangan Mahasiswa.Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 9 Juni 2026 mulai pukul 19.15 WIB hingga selesai di Hall Ar-Rahmah Surabaya. Acara dipandu oleh M. Arief Fatkhurrahman, mahasiswa semester 4 asal Malang, sebagai pembawa acara. Sementara itu, jalannya diskusi dimoderatori oleh Ubaidillah, perwakilan Kementerian PSDM BEM STIDKI Ar-Rahmah. Hadir sebagai pemantik diskusi Maulana Lukman, Presiden BEM STAI Luqman Surabaya sekaligus penggerak Komunitas Literasi IQRO' Movement.Dalam sambutannya, Ketua BEM STIDKI Ar-Rahmah periode 2026–2027, Mamdzuh Nuruddin, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta, jajaran BEM STAI Luqman, serta Komunitas IQRO' Movement yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berbagi dalam forum literasi tersebut."Terima kasih kepada seluruh hadirin, teman-teman BEM STAI Luqman, dan IQRO' Movement yang telah menyempatkan hadir dalam kegiatan ini. Kami juga memohon maaf apabila masih terdapat kekurangan, baik dari segi tempat, jamuan, maupun hal-hal lainnya," ujar Mamdzuh.Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah awal BEM STIDKI Ar-Rahmah dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan mahasiswa."Kami berharap kegiatan ini menjadi awal terbentuknya habit literasi di lingkungan STIDKI. Semoga ke depan teman-teman semakin melek terhadap pentingnya membaca dan mulai mencintai budaya literasi. Harapan kami, kolaborasi seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut sebagai ruang belajar bersama. Sejatinya ruh mahasiswa adalah membaca. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pres Umam, salah satu pencetus Komunitas Literasi IQRO' Movement sekaligus demisioner Presiden BEM STAI Luqman Surabaya. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sekaligus berharap agenda literasi seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di STIDKI Ar-Rahmah.Pres Umam juga membagikan cerita mengenai lahirnya IQRO' Movement. Menurutnya, gerakan tersebut berawal dari keresahan mahasiswa STAI Luqman terhadap penggunaan telepon genggam yang sering kali menyita perhatian mahasiswa."Gerakan ini lahir sebagai pengingat bagi teman-teman mahasiswa bahwa ada waktu untuk berhenti sejenak dari layar dan kembali membaca. Awalnya gerakan ini bahkan bernama Time to Read, sebelum akhirnya berkembang menjadi IQRO' Movement. Kami percaya bahwa membaca adalah ruh mahasiswa dan melalui bacaan, jendela pengetahuan akan terbuka lebih luas," ungkapnya.Memasuki sesi utama, moderator mempersilakan Maulana Lukman untuk memantik diskusi dalam forum "Ruang Tumbuh: Dari Buku ke Realita". Pada kesempatan tersebut, Maulana mengawali diskusi dengan sebuah cerita ringan. Ia mengungkapkan bahwa awalnya diminta membedah buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, namun urung dilakukan karena buku yang diterimanya ternyata merupakan hasil pembajakan."Saya tidak ingin membawa buku bajakan ke forum ini. Karena itu, kita memilih membahas buku La Tahzan yang juga memiliki banyak pelajaran berharga," ujarnya.Dalam pemaparannya, Maulana menyampaikan berbagai gagasan mengenai kebahagiaan, pengendalian diri, dan makna kehidupan yang kemudian dikaitkan dengan realitas mahasiswa maupun kondisi sosial di Indonesia saat ini. Beberapa pokok bahasan yang disampaikan antara lain:Konsep Stoisisme, yaitu memusatkan perhatian pada hal-hal yang berada dalam kendali serta menerima dengan lapang hal-hal yang berada di luar kendali.Dua bentuk kebahagiaan menurut Jonathan Haidt, yakni kebahagiaan yang bersifat kesenangan jangka pendek (hedonic well-being) dan kebahagiaan yang lahir dari makna hidup (eudaimonic well-being).Bahwa tidak semua hal yang belum rasional berarti tidak memiliki nilai untuk dipelajari.Pentingnya tidak menggantungkan jati diri pada pengakuan dari luar diri.Kebahagiaan seharusnya dihadirkan setiap hari, bukan dijadikan tujuan akhir kehidupan.Memusatkan perhatian pada apa yang telah dimiliki sebagai bentuk rasa syukur.Perasaan yang terus dipendam berpotensi menjadi racun bagi diri sendiri.Tiga ciri orang yang bahagia, yaitu tidak terus-menerus menyesali masa lalu, mampu menikmati masa kini, dan tidak berlebihan mengkhawatirkan masa depan.Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang diikuti oleh tiga penanya dari peserta. Beragam pandangan dan pengalaman yang disampaikan menjadikan forum berlangsung hangat serta memperkaya sudut pandang seluruh peserta mengenai pentingnya membangun ketahanan diri melalui literasi dan refleksi.Melalui kegiatan ini, BEM STIDKI Ar-Rahmah berharap budaya membaca tidak berhenti sebagai aktivitas individu, tetapi berkembang menjadi budaya intelektual yang mampu melahirkan mahasiswa yang kritis, reflektif, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.Editor: Kementerian Media dan Informasi BEM STIDKI Ar-Rahmah