Graduation ceremony with students throwing caps in the air
Graduation ceremony with students throwing caps in the air

Berita Terbaru

Lihat Semua
Pengukuhan 75 Mahasiswa Baru STIDKI Disiapkan Berdakwah hingga Mancanegara
12 Agustus 2026 Berita
Pengukuhan 75 Mahasiswa Baru STIDKI Disiapkan Berdakwah hingga Mancanegara
SURABAYA — Dari ratusan pendaftar, hanya 75 mahasiswa yang akhirnya menjadi bagian dari angkatan baru STIDKI Ar Rahmah Surabaya Tahun Akademik 2026/2027. Mereka resmi dikukuhkan dalam prosesi Pengukuhan Mahasiswa Baru STIDKI Ar Rahmah 2026 yang berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat.Namun, ada pesan yang lebih besar dari sekadar status sebagai mahasiswa baru. Sejak hari pertama, mereka diingatkan bahwa pendidikan di STIDKI adalah bagian dari persiapan untuk terjun langsung melayani umat dan berdakwah di mana pun dibutuhkan.Ketua STIDKI Ar Rahmah Surabaya, Dr. Shobikhul Qisom, M.Pd., M.Ag., berpesan agar para mahasiswa mempersiapkan diri untuk medan dakwah yang luas, baik di Indonesia maupun di luar negeri.Kemampuan bahasa, keilmuan, hafalan Al-Qur’an, hingga kapasitas kepemimpinan yang ditempa selama kuliah diharapkan tidak berhenti sebagai capaian akademik, tetapi menjadi bekal ketika mereka benar-benar hadir di tengah masyarakat.“Ini adalah karunia Allah. Kalian dipilih oleh Allah,” menjadi pesan yang mengingatkan mahasiswa bahwa kesempatan belajar tersebut bukan sekadar hasil dari proses seleksi, tetapi juga amanah yang harus dijaga dengan kesungguhan.Pesan tentang amanah itu semakin kuat ketika Ketua Pembina Yayasan Ibadurrahman Surabaya, KH. Muhammad Shaleh Drehem, Lc., mengajak mahasiswa melihat kembali sosok pemuda dan imam ideal melalui karakter ‘Ibādurraḥmān yang digambarkan Al-Qur’an dalam Surah Al-Furqan.Menurut beliau, salah satu ujian besar seorang pemuda bukan hanya soal kemampuan akademik atau kecakapan berbicara di depan jamaah. Lebih mendasar dari itu adalah kemampuan menjaga kehormatan diri dan mengendalikan dorongan hawa nafsu.Pengukuhan juga diikuti para wali mahasiswa. Bersama mahasiswa, mereka menjalani proses administrasi dan penandatanganan MoU beasiswa sebagai bentuk komitmen terhadap ketentuan pendidikan dan pembinaan selama menempuh studi di STIDKI Ar Rahmah.Dari Surabaya, perjalanan 75 mahasiswa baru itu kini dimulai.Hari ini mereka dikukuhkan sebagai mahasiswa. Kelak, mereka diharapkan hadir di tengah umat sebagai imam, dai, dan pemimpin yang membawa Al-Qur’an ke mana pun langkah pengabdian membawa mereka.
Anak Kecil di Masjid: Belajar Fiqih Imamah dari Kasih Sayang Rasulullah
23 Juli 2026 Pengumuman
Anak Kecil di Masjid: Belajar Fiqih Imamah dari Kasih Sayang Rasulullah
Hari Anak Nasional tahun ini mengangkat tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Tema ini terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, termasuk kehidupan di masjid.Sebab anak-anak juga bagian dari masjid. Mereka datang bersama ayahnya, mengikuti ibunya, duduk di saf belakang, sesekali berbisik, bergerak, bertanya, bahkan menangis. Dari cara kita memperlakukan mereka, sebenarnya tampak bagaimana masjid memandang masa depannya sendiri.Di satu masjid yang indah, Nabi memimpin shalat. Saf-saf sahabat berdiri rapi di belakang Rasulullah ﷺ. Tidak ada yang ingin mendahului gerakan beliau. Tidak ada yang ingin kehilangan satu takbir pun dari imam paling mulia itu.Bacaan Rasulullah ﷺ mengalir menenangkan. Para sahabat larut dalam shalat. Di hadapan mereka, Hari itu, Rasulullah ﷺ sebenarnya ingin memanjangkan shalatnya. Beliau telah berdiri sebagai imam, dan dalam hati beliau ada keinginan untuk membaca lebih panjang. Jamaah pun mengikuti dengan khusyuk.Lalu, dari salah satu sudut masjid, terdengar suara tangis seorang anak kecil.Tangis itu memecah hening. Bagi sebagian orang, mungkin ia hanya suara kecil di tengah shalat. Tetapi bagi seorang ibu, tangis anak adalah panggilan yang langsung mengetuk hati. Tubuhnya tetap berdiri sebagai makmum, tetapi pikirannya bisa terbelah. Ia ingin tetap khusyuk, namun hatinya tertarik kepada anak yang menangis.Rasulullah ﷺ menangkap keadaan itu.Beliau memahami kegelisahan seorang ibu. Beliau merasakan beratnya hati seorang perempuan yang sedang shalat, sementara anaknya menangis di dekatnya. Maka, shalat yang semula ingin beliau panjangkan, beliau ringankan.Peristiwa ini kemudian direkam oleh Abu Qatadah al-Harits bin Rib‘i radhiyallahu ‘anhu. dan dapat kita temui dalam Shahih al-Bukhari, no. 868.Riwayat lain datang dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia memberi kesaksian yang sangat indah tentang shalat Rasulullah ﷺ.Anas berkata bahwa ia tidak pernah shalat di belakang seorang imam yang shalatnya lebih ringan dan lebih sempurna daripada Nabi ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar tangisan anak kecil, beliau meringankan shalat karena khawatir ibunya terganggu.Kesaksian Anas ini penting. Rasulullah ﷺ meringankan shalat, tetapi tidak mengurangi kesempurnaannya. Beliau tetap menjaga rukun, tumakninah, bacaan, dan adab shalat. Shalat beliau tidak dibuat berat bagi jamaah, tetapi juga tidak kehilangan kualitasnya.Di sinilah letak keseimbangan fiqih imamah. imam memiliki kedudukan penting. Ia berdiri di depan, diikuti oleh jamaah, dan menjadi pengarah suasana ibadah. Karena itu, kemampuan imam tidak berhenti pada bacaan yang benar, suara yang indah, atau penampilan yang rapi.Seorang imam perlu memahami siapa yang berdiri di belakangnya.Di belakang imam ada lansia yang mungkin tidak kuat berdiri lama. Ada pekerja yang datang ke masjid dalam keadaan lelah. Ada musafir. Ada orang sakit. Ada ibu yang membawa anak. Ada anak kecil yang sedang belajar mengenal masjid. Maka hendaknya imam memperhatikan hal hal berikut.1. Imam perlu menjaga kualitas shalat. Keringanan tidak boleh membuat shalat kehilangan tumakninah dan kesempurnaan.2. Imam perlu memperhatikan keadaan jamaah. Shalat berjamaah menuntut kebersamaan, dan kebersamaan menuntut kepekaan.3. Imam perlu menghadirkan rahmah dalam kepemimpinannya. Tegas dalam ibadah, tetapi lembut kepada umat.4. Imam perlu memahami bahwa masjid adalah ruang pendidikan. Anak-anak yang datang ke masjid sedang membangun ingatan pertamanya tentang rumah Allah.5. Imam perlu menjadi teladan dalam adab. Cara imam menyikapi anak kecil, orang tua, dan jamaah yang lemah akan menjadi pelajaran yang dilihat langsung oleh masyarakat.Dan Menariknya, riwayat tentang kelembutan shalat Nabi ﷺ disampaikan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Anas sendiri sejak kecil hidup dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ibunya, Ummu Sulaim, menyerahkan Anas agar dapat melayani dan belajar dari Nabi.Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa masa depan sedang tumbuh di sekitar kita. Kadang ia hadir dalam bentuk anak kecil yang berlari di halaman masjid. Kadang ia duduk di samping ibunya. Kadang ia belum bisa tenang saat shalat. Kadang ia menangis, lalu membuat sebagian orang menoleh.Ini pelajaran besar. Anak-anak yang didekatkan kepada masjid dengan cinta, adab, dan bimbingan, dapat tumbuh menjadi penjaga ilmu, penerus dakwah, dan pembangun masa depan umat.Selamat Hari Anak Nasional 2026Surabaya, 23 Juli 2026
STIDKI Ar Rahmah Umumkan Pemenang Lomba Menulis Buku Hasil International Student Mobility Program (ISMP)
18 Juli 2026 Prestasi
STIDKI Ar Rahmah Umumkan Pemenang Lomba Menulis Buku Hasil International St...
Surabaya — STIDKI Ar Rahmah Surabaya resmi mengumumkan dua karya terbaik dalam Lomba Menulis Buku Hasil International Student Mobility Program (ISMP). Kompetisi ini mendorong mahasiswa mengolah pengalaman pengabdian kemasjidan menjadi karya yang reflektif, inspiratif, dan bermanfaat bagi masyarakat.Predikat Terbaik 1 diraih buku Masjid Pesisir, Dakwah Lintas Negeri karya M. Edwin Kusuma, Salman Al Farisi Syamlan, Hamas Fauzi At-Tamimi, dan M. Iqbal Rajasa, dengan nilai akhir 85,20. Buku ini merekam pengalaman dakwah lintas budaya di Masjid Ibnu Abbas, Besut, Terengganu, Malaysia.Sementara itu, predikat Terbaik 2 diberikan kepada buku Masjid di Balik Bukit Sumba karya Mochammad Febry Firdaus, Mochammad Ihya’ Ulumuddin, Ahmad Rahmatallah, dan Shofwan, dengan nilai akhir 84,80. Karya tersebut mengangkat praktik pelayanan, pendidikan, pemberdayaan, dan pengelolaan masjid di Waikabubak, Sumba Barat.Penilaian dilakukan berdasarkan substansi dan kedalaman isi, kreativitas penyajian, kualitas penulisan, dampak dan manfaat, serta kelayakan terbit. Melalui kegiatan ini, STIDKI Ar Rahmah menegaskan komitmennya untuk mengembangkan budaya literasi sekaligus mengabadikan jejak pengabdian mahasiswa dalam bentuk karya yang dapat menginspirasi umat.Selamat kepada seluruh penulis. Semoga karya ini menjadi awal lahirnya lebih banyak buku dakwah yang bermutu dan berdampak.

LOKASI KAMPUS

STIDKI AR RAHMAH logo STIDKI
AR-RAHMAH

Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Ar Rahmah Surabaya

Jl. Teluk Buli I No. 3-5-7, Perak Utara, Kec. Pabean Cantian, Surabaya

Copyright © 2026 STIDKI AR-RAHMAH || All Rights Reserved