7 Oktober 2026
Akademik
Dari Masjid Menuju Peradaban Global, STIDKI Dorong Mahasiswa Menjadi Pengge...
SURABAYA — Masjid tidak cukup hanya dibangun secara megah, tetapi harus kembali menjadi pusat ilmu, pembinaan umat, dan lahirnya generasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam Studium Generale STIDKI Ar Rahmah bertajuk “Dari Masjid Menuju Peradaban Global: Membangun Jejaring dan Kolaborasi Dakwah Internasional”, Rabu (7/10/2026).Kegiatan ini menghadirkan *Al-Habib Assoc. Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Pd., CIRK., CIQaR., CIE., Direktur Pascasarjana UII Dalwa*. Dalam paparannya, beliau mengajak mahasiswa memahami bahwa keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada kelulusan maupun gelar akademik.“Ending dari belajar adalah sebesar apa manfaat yang didapat oleh umat setelah ia lulus,” ujarnya.Menurut Habib Zainal (sapaan akrab beliau), semangat generasi muda dalam berdakwah perlu dibarengi kemampuan membaca situasi dan memahami karakter masyarakat. Seorang da’i tidak cukup hanya memiliki ilmu agama, tetapi juga harus mengenali medan dakwah, kondisi sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat yang dihadapinya.Beliau turut menyoroti hubungan erat antara masjid dan tradisi keilmuan. Berdasarkan pengalamannya melihat kehidupan umat Islam di sejumlah negara, seperti di Turki misalnya, masjid idealnya tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan madrasah atau majelis ilmu, serta maktabah atau perpustakaan.Perpustakaan, menurutnya, perlu dikelola dengan nyaman dan profesional agar mampu menumbuhkan budaya membaca dan menulis di kalangan generasi muda.Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah masjid tidak semata-mata terletak pada kemegahan bangunannya. Makna takmir adalah memakmurkan masjid melalui ibadah, pendidikan, pembinaan Al-Qur’an, pelayanan masyarakat, dan aktivitas keilmuan.Habib Zainal juga mengingatkan bahwa kekuatan umat sangat berkaitan dengan kedekatan terhadap Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, ulama, serta persatuan umat. Sejarah, menurutnya, menunjukkan pentingnya menjaga tradisi keilmuan sebagai fondasi dalam membangun peradaban.Dalam sesi diskusi, beliau berpesan agar para dai membangun kapasitas pribadi, kemandirian, jaringan sosial, dan hubungan yang kuat dengan masyarakat. Dakwah tidak cukup dijalankan melalui program, tetapi membutuhkan kepercayaan dan keteladanan.Bagi mahasiswa STIDKI Ar Rahmah, Studium Generale ini menjadi penguatan bahwa pendidikan Al-Qur’an dan kemasjidan harus berujung pada kebermanfaatan nyata bagi umat.“Awali perubahan dunia dan seisinya dari masjid” pesannya.Melalui kegiatan ini, STIDKI Ar Rahmah menegaskan komitmennya menyiapkan generasi penggerak masjid yang berilmu, berwawasan luas, mampu membaca realitas, dan siap membangun jejaring dakwah hingga tingkat global.