Header Halaman
Gambar Berita
23 July 2026 Pengumuman

Anak Kecil di Masjid: Belajar Fiqih Imamah dari Kasih Sayang Rasulullah

Hari Anak Nasional tahun ini mengangkat tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Tema ini terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, termasuk kehidupan di masjid.

Sebab anak-anak juga bagian dari masjid. Mereka datang bersama ayahnya, mengikuti ibunya, duduk di saf belakang, sesekali berbisik, bergerak, bertanya, bahkan menangis. Dari cara kita memperlakukan mereka, sebenarnya tampak bagaimana masjid memandang masa depannya sendiri.

Di satu masjid yang indah, Nabi memimpin shalat. Saf-saf sahabat berdiri rapi di belakang Rasulullah ﷺ. Tidak ada yang ingin mendahului gerakan beliau. Tidak ada yang ingin kehilangan satu takbir pun dari imam paling mulia itu.

Bacaan Rasulullah ﷺ mengalir menenangkan. Para sahabat larut dalam shalat. Di hadapan mereka, Hari itu, Rasulullah ﷺ sebenarnya ingin memanjangkan shalatnya. Beliau telah berdiri sebagai imam, dan dalam hati beliau ada keinginan untuk membaca lebih panjang. Jamaah pun mengikuti dengan khusyuk.

Lalu, dari salah satu sudut masjid, terdengar suara tangis seorang anak kecil.

Tangis itu memecah hening. Bagi sebagian orang, mungkin ia hanya suara kecil di tengah shalat. Tetapi bagi seorang ibu, tangis anak adalah panggilan yang langsung mengetuk hati. Tubuhnya tetap berdiri sebagai makmum, tetapi pikirannya bisa terbelah. Ia ingin tetap khusyuk, namun hatinya tertarik kepada anak yang menangis.

Rasulullah ﷺ menangkap keadaan itu.

Beliau memahami kegelisahan seorang ibu. Beliau merasakan beratnya hati seorang perempuan yang sedang shalat, sementara anaknya menangis di dekatnya. Maka, shalat yang semula ingin beliau panjangkan, beliau ringankan.

Peristiwa ini kemudian direkam oleh Abu Qatadah al-Harits bin Rib‘i radhiyallahu ‘anhu. dan dapat kita temui dalam Shahih al-Bukhari, no. 868.

Riwayat lain datang dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia memberi kesaksian yang sangat indah tentang shalat Rasulullah ﷺ.

Anas berkata bahwa ia tidak pernah shalat di belakang seorang imam yang shalatnya lebih ringan dan lebih sempurna daripada Nabi ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar tangisan anak kecil, beliau meringankan shalat karena khawatir ibunya terganggu.

Kesaksian Anas ini penting. Rasulullah ﷺ meringankan shalat, tetapi tidak mengurangi kesempurnaannya. Beliau tetap menjaga rukun, tumakninah, bacaan, dan adab shalat. Shalat beliau tidak dibuat berat bagi jamaah, tetapi juga tidak kehilangan kualitasnya.

Di sinilah letak keseimbangan fiqih imamah. imam memiliki kedudukan penting. Ia berdiri di depan, diikuti oleh jamaah, dan menjadi pengarah suasana ibadah. Karena itu, kemampuan imam tidak berhenti pada bacaan yang benar, suara yang indah, atau penampilan yang rapi.

Seorang imam perlu memahami siapa yang berdiri di belakangnya.

Di belakang imam ada lansia yang mungkin tidak kuat berdiri lama. Ada pekerja yang datang ke masjid dalam keadaan lelah. Ada musafir. Ada orang sakit. Ada ibu yang membawa anak. Ada anak kecil yang sedang belajar mengenal masjid. Maka hendaknya imam memperhatikan hal hal berikut.

1. Imam perlu menjaga kualitas shalat. Keringanan tidak boleh membuat shalat kehilangan tumakninah dan kesempurnaan.
2. Imam perlu memperhatikan keadaan jamaah. Shalat berjamaah menuntut kebersamaan, dan kebersamaan menuntut kepekaan.
3. Imam perlu menghadirkan rahmah dalam kepemimpinannya. Tegas dalam ibadah, tetapi lembut kepada umat.
4. Imam perlu memahami bahwa masjid adalah ruang pendidikan. Anak-anak yang datang ke masjid sedang membangun ingatan pertamanya tentang rumah Allah.
5. Imam perlu menjadi teladan dalam adab. Cara imam menyikapi anak kecil, orang tua, dan jamaah yang lemah akan menjadi pelajaran yang dilihat langsung oleh masyarakat.

Dan Menariknya, riwayat tentang kelembutan shalat Nabi ﷺ disampaikan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Anas sendiri sejak kecil hidup dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ibunya, Ummu Sulaim, menyerahkan Anas agar dapat melayani dan belajar dari Nabi.

Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa masa depan sedang tumbuh di sekitar kita. Kadang ia hadir dalam bentuk anak kecil yang berlari di halaman masjid. Kadang ia duduk di samping ibunya. Kadang ia belum bisa tenang saat shalat. Kadang ia menangis, lalu membuat sebagian orang menoleh.

Ini pelajaran besar. Anak-anak yang didekatkan kepada masjid dengan cinta, adab, dan bimbingan, dapat tumbuh menjadi penjaga ilmu, penerus dakwah, dan pembangun masa depan umat.

Selamat Hari Anak Nasional 2026
Surabaya, 23 Juli 2026

STIDKI AR RAHMAH logo STIDKI
AR-RAHMAH

Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Ar Rahmah Surabaya

Jl. Teluk Buli I No. 3-5-7, Perak Utara, Kec. Pabean Cantian, Surabaya

Copyright © 2026 STIDKI AR-RAHMAH || All Rights Reserved